Selasa, 28 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Tuban- Seorang ibu Marsih (66) dan anaknya Mariyanto (45) yang merupakan warga Desa Dermawuharjo, Kecamatan Grabagan, Kabupaten Tuban, ditemukan tak bernyawa di petilasan Empu Supo Tuban. Diduga keduanya tewas usai menghirup asap belerang di kawasan tersebut.

Sebelum tewas, keduanya mendatangi petilasan tersebut untuk melakukan ritual sebelum panen padi. Keduanya membakar daun jagung dan kemenyan di lokasi bekas kolam petilasan Empu Supo.

Kapolsek Grabagan AKP Darwanto mengatakan, berdasarkan dari keterangan pihak keluarga, korban memang melakukan ritual di bekas kolam sebelum padinya di panen. Keduanya berangkat dari rumah sekitar pukul 05.30 WIB.

Biasnaya, saat menjalankan ritual itu tidak berlangsung lama. Namun, kedua korban ini beerapa jam tidak pulang setelah ritual itu. sehingga pihak keluarga curiga terjadi apa-apa kepada kedua korban.

Baca: Terduga Pembunuh 2 Pedagang di Magelang Ternyata Seorang Dukun

"Karena lama enggak pulang akhirnya anaknya mencari. Namun keduanya malah menjadi korban ganasnya bau belerang di kubangan itu," ujarnya, dikutip dari detik.com, Selasa (24/3/2022).

Darwanto juga mengatakan bahwa ritual itu tidak hanya dilakukan oleh kedua korban. Tetapi hamper semua masyarakat setempat menjalankan ritual tersebut ketika hendak memanen padi.

"Ya melaksanakan ritual panen padi. Biasanya bakar daun jagung sama dupa atau kemenyan. Itu bagi warga yang percaya," kata Darwanto.
Sementara penyebab tewasnya dua korban itu, diduga karena menghirup bau asap belerang dari kubangan bekas kolam di dekat Petilasan Empu Supo. Lokasi itu memang terkenal dengan kubangan bekas kolam yang biasa dipakai untuk mencuci pusaka.Baca: Kronologi Ritual di Pantai Payangan Jember yang Tewaskan 11 OrangBau asap belerang yang sangat kuat memang kerap tercium dari bekas kolam air hangat di dekat petilasan itu. Kabarnya, kolam itu seringkali dipakai untuk mencuci pusaka oleh pengunjung petilasan Empu Supo.Darwanto menambahkan, berdasarkan dari keterangan saksi yang merupakan penjaga petilasan Empu Supo tersebut mengaku saat pertama kali ditemukan, kepala jenazah Marsih ada di atas tubuh anaknya yang juga telentang."Posisi mayat itu telentang menghadap ke barat. Mariyanto ada di bawah tubuh ibunya memegang kedua tangan ibunya," jelasnya. Penulis: Cholis AnwarEditor: Cholis AnwarSumber: Detik.com

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler