MURIANEWS, Tuban- Seorang ibu Marsih (66) dan anaknya Mariyanto (45) yang merupakan warga Desa Dermawuharjo, Kecamatan Grabagan, Kabupaten Tuban, ditemukan tak bernyawa di
petilasan Empu Supo Tuban. Diduga keduanya tewas usai menghirup asap belerang di kawasan tersebut.
Sebelum tewas, keduanya mendatangi petilasan tersebut untuk melakukan ritual sebelum panen padi. Keduanya membakar daun jagung dan kemenyan di lokasi bekas kolam petilasan Empu Supo.
Kapolsek Grabagan AKP Darwanto mengatakan, berdasarkan dari keterangan pihak keluarga, korban memang melakukan ritual di bekas kolam sebelum padinya di panen. Keduanya berangkat dari rumah sekitar pukul 05.30 WIB.
Biasnaya, saat menjalankan ritual itu tidak berlangsung lama. Namun, kedua korban ini beerapa jam tidak pulang setelah ritual itu. sehingga pihak keluarga curiga terjadi apa-apa kepada kedua korban.
Baca: Terduga Pembunuh 2 Pedagang di Magelang Ternyata Seorang Dukun"Karena lama enggak pulang akhirnya anaknya mencari. Namun keduanya malah menjadi korban ganasnya bau belerang di kubangan itu," ujarnya, dikutip dari
detik.com, Selasa (24/3/2022).
Darwanto juga mengatakan bahwa ritual itu tidak hanya dilakukan oleh kedua korban. Tetapi hamper semua masyarakat setempat menjalankan ritual tersebut ketika hendak memanen padi.
"Ya melaksanakan ritual panen padi. Biasanya bakar daun jagung sama dupa atau kemenyan. Itu bagi warga yang percaya," kata Darwanto.
Sementara penyebab tewasnya dua korban itu, diduga karena menghirup bau asap belerang dari kubangan bekas kolam di dekat
Petilasan Empu Supo. Lokasi itu memang terkenal dengan kubangan bekas kolam yang biasa dipakai untuk mencuci pusaka.
Baca: Kronologi Ritual di Pantai Payangan Jember yang Tewaskan 11 OrangBau asap belerang yang sangat kuat memang kerap tercium dari bekas kolam air hangat di dekat petilasan itu. Kabarnya, kolam itu seringkali dipakai untuk mencuci pusaka oleh pengunjung
petilasan Empu Supo.Darwanto menambahkan, berdasarkan dari keterangan saksi yang merupakan penjaga petilasan Empu Supo tersebut mengaku saat pertama kali ditemukan, kepala jenazah Marsih ada di atas tubuh anaknya yang juga telentang."Posisi mayat itu telentang menghadap ke barat. Mariyanto ada di bawah tubuh ibunya memegang kedua tangan ibunya," jelasnya. Penulis: Cholis AnwarEditor: Cholis AnwarSumber:
Detik.com
[caption id="attachment_279907" align="alignleft" width="880"]

polisi melakukan olah TKP di bekas kolam petilasan Empu Supo Tuban (detik.com)[/caption]
MURIANEWS, Tuban- Seorang ibu Marsih (66) dan anaknya Mariyanto (45) yang merupakan warga Desa Dermawuharjo, Kecamatan Grabagan, Kabupaten Tuban, ditemukan tak bernyawa di
petilasan Empu Supo Tuban. Diduga keduanya tewas usai menghirup asap belerang di kawasan tersebut.
Sebelum tewas, keduanya mendatangi petilasan tersebut untuk melakukan ritual sebelum panen padi. Keduanya membakar daun jagung dan kemenyan di lokasi bekas kolam petilasan Empu Supo.
Kapolsek Grabagan AKP Darwanto mengatakan, berdasarkan dari keterangan pihak keluarga, korban memang melakukan ritual di bekas kolam sebelum padinya di panen. Keduanya berangkat dari rumah sekitar pukul 05.30 WIB.
Biasnaya, saat menjalankan ritual itu tidak berlangsung lama. Namun, kedua korban ini beerapa jam tidak pulang setelah ritual itu. sehingga pihak keluarga curiga terjadi apa-apa kepada kedua korban.
Baca: Terduga Pembunuh 2 Pedagang di Magelang Ternyata Seorang Dukun
"Karena lama enggak pulang akhirnya anaknya mencari. Namun keduanya malah menjadi korban ganasnya bau belerang di kubangan itu," ujarnya, dikutip dari
detik.com, Selasa (24/3/2022).
Darwanto juga mengatakan bahwa ritual itu tidak hanya dilakukan oleh kedua korban. Tetapi hamper semua masyarakat setempat menjalankan ritual tersebut ketika hendak memanen padi.
"Ya melaksanakan ritual panen padi. Biasanya bakar daun jagung sama dupa atau kemenyan. Itu bagi warga yang percaya," kata Darwanto.
Sementara penyebab tewasnya dua korban itu, diduga karena menghirup bau asap belerang dari kubangan bekas kolam di dekat
Petilasan Empu Supo. Lokasi itu memang terkenal dengan kubangan bekas kolam yang biasa dipakai untuk mencuci pusaka.
Baca: Kronologi Ritual di Pantai Payangan Jember yang Tewaskan 11 Orang
Bau asap belerang yang sangat kuat memang kerap tercium dari bekas kolam air hangat di dekat petilasan itu. Kabarnya, kolam itu seringkali dipakai untuk mencuci pusaka oleh pengunjung
petilasan Empu Supo.
Darwanto menambahkan, berdasarkan dari keterangan saksi yang merupakan penjaga petilasan Empu Supo tersebut mengaku saat pertama kali ditemukan, kepala jenazah Marsih ada di atas tubuh anaknya yang juga telentang.
"Posisi mayat itu telentang menghadap ke barat. Mariyanto ada di bawah tubuh ibunya memegang kedua tangan ibunya," jelasnya.
Penulis: Cholis Anwar
Editor: Cholis Anwar
Sumber:
Detik.com